Semarang – Empat mahasiswa Program Studi Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro (UNDIP) mendapat pengalaman langka selama menjalani program MBKM di WWF Indonesia. Mereka adalah Melanaya ‘Azizah Nurmaniar, Qaisara Feby Putri Mulyani, Ratih Ayu Ningsih, dan Gita Dwi Julyani. Selama 23 Februari hingga 30 Juni 2026, mereka bergabung dalam divisi Marine ETP Species (Endangered, Threatened, Protected).
Informasi mengenai program MBKM ini diperoleh melalui pencarian mandiri dengan menelusuri website resmi serta media sosial WWF Indonesia yang secara rutin membagikan informasi terkait program magang dan kegiatan konservasi. Setelah mendapatkan informasi awal tersebut, para mahasiswa kemudian menghubungi pihak WWF Indonesia melalui email untuk memperoleh penjelasan lebih lanjut mengenai mekanisme pendaftaran. Selanjutnya, diarahkan melalui email resmi WWF untuk pengiriman berbagai persyaratan dan berkas yang diperlukan, seperti CV, surat pengantar dari kampus, serta dokumen pendukung lainnya.

Observasi dan pembuatan peta BRUV deployment
Kegiatan yang dilakukan sangat beragam, antara lain melakukan input data bycatch di berbagai site WWF seperti Paloh, Alor, Muncar, hingga Derawan; input data insidental sighting; pembuatan peta BRUV deployment di Derawan, Alor, Maluku Barat Daya; melakukan suporting laporan terkait pelatihan Best Management Practice (BMP); melakukan Survey Illegal Wildlife Trade (IWT) serta monitoring IWT di e-commerce yang mencakup penyu dan turunannya, hiu-pari dan turunannya, serta mamlia laut dan turunannya; input data peneluran di Jembrana, serta input data penggunaan ruangan 3T Room di TCEC; desk study referensi lokasi peneluran enam spesies penyu di Indonesia, kajian smuggling penyu di wilayah Jawa–Bali dan Kalimantan (5 tahun terakhir); penyusunan factsheet penyu dan mamalia laut untuk komunikasi dan sosialisasi, serta pengembangan konsep Simposium Penyu (tema, rekomendasi publikasi, jurnal, dan venue); membuat desk study kasus keterdamparan dan pemanfaatan mamalia laut di Indonesia, BMP interaksi wisata dengan cetacean dan dugong serta penyu; serta pembuatan peta kemunculan mamalia laut berdasarkan survei di Alor dan Maluku Barat Daya.

Kegiatan monitoring pendaratan penyu di Pantai Serangan dan Pantai Biaung, Bali.
Melalui kolaborasi dengan TCEC (Turtle Conservation and Education Center), para mahasiswa mendapat pengalaman langsung: memberi edukasi ke wisatawan, merelokasi telur penyu, menangani penyu terdampar, melepas tukik, hingga memonitor pendaratan penyu di Pantai Serangan dan Pantai Biaung, Bali.
Puncak pengalaman mereka adalah menjadi panitia dalam acara World Ocean Day 2026, di mana mereka mendemonstrasikan penanganan dan mitigasi bycatch serta berinteraksi dengan berbagai NGO kelautan. Mereka juga mengikuti Focus Group Discussion (FGD) bersama para pemangku kepentingan, membahas isu konservasi kelautan secara multi-stakeholder.

Menjadi panitia World Ocean Day 2023
Melanaya mewakili tim menyampaikan harapannya, “Semoga mahasiswa Kelautan UNDIP dapat membangun relasi luas dengan profesional di bidang kelautan. Pengalaman ini menjadi bekal berharga untuk mengembangkan kompetensi dan mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja.”
Program MBKM ini membuktikan bahwa mahasiswa tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga berkontribusi langsung dalam aksi konservasi laut yang nyata dan mendesak.