Fenomena “Anjir” dan “Jir” dalam Tuturan Gen-Z Indonesia: Antara Ekspresi Emosi, Identitas, dan Budaya Digital

Dalam beberapa tahun terakhir, generasi Z di Indonesia semakin sering menggunakan imbuhan atau sisipan kata seperti “anjir”, “jir”, “anjay”, dan variasi sejenis dalam percakapan sehari-hari, baik lisan maupun tulisan. Ungkapan ini muncul di berbagai konteks—dari keterkejutan, kekaguman, kekesalan, hingga sekadar penekanan makna.

Fenomena ini menarik untuk dianalisis karena bukan sekadar tren bahasa, melainkan cerminan dinamika sosial, budaya digital, dan identitas generasi muda.Secara linguistik, kata “anjir” dan “jir” dapat dipahami sebagai bentuk eufemisme atau pelunakan dari kata yang dianggap kasar atau tabu, seperti “anjing”. Dalam proses ini, terjadi pemendekan (clipping) dan perubahan fonologis yang membuat kata tersebut terdengar lebih ringan, tidak terlalu ofensif, namun tetap mempertahankan daya ekspresifnya. Hal ini sejalan dengan kecenderungan bahasa untuk beradaptasi terhadap norma kesopanan sosial tanpa kehilangan fungsi emosionalnya.Dari sisi pragmatik, imbuhan seperti “anjir” berfungsi sebagai penanda emosi (emotive marker).

Gen-Z hidup dalam arus komunikasi yang cepat, singkat, dan padat makna, terutama di media sosial dan aplikasi pesan instan. Dalam konteks ini, satu kata seperti “jir” mampu mewakili spektrum emosi yang luas tergantung intonasi, konteks, dan relasi antarpenutur. Ia bisa bermakna kagum (“Keren banget, jir”), kaget (“Lah, kok bisa, anjir?”), atau kesal ringan. Fleksibilitas makna inilah yang membuatnya sangat efektif dan populer.Faktor budaya digital juga berperan besar. Gen-Z merupakan generasi yang tumbuh bersama meme, konten viral, dan bahasa internet yang cair.

Kata-kata seperti “anjir” sering dipopulerkan oleh kreator konten, streamer, atau figur publik di platform seperti TikTok, YouTube, dan X (Twitter). Repetisi dalam ruang digital mempercepat normalisasi kata tersebut, hingga akhirnya berpindah dari ranah daring ke percakapan luring. Bahasa tidak lagi bergerak dari atas ke bawah (formal ke informal), tetapi justru sebaliknya: dari komunitas digital ke masyarakat luas.

Selain itu, penggunaan istilah ini juga berkaitan dengan pembentukan identitas dan solidaritas kelompok. Bagi Gen-Z, memakai kata “anjir” atau “jir” menandakan keanggotaan dalam komunitas sebaya yang santai, egaliter, dan “relatable”. Bahasa menjadi alat untuk menunjukkan bahwa seseorang up to date, tidak kaku, dan memahami kode sosial generasinya. Dalam hal ini, pilihan kata bukan hanya soal komunikasi, tetapi juga soal positioning sosial.

Namun, penting dicatat bahwa penggunaan istilah ini semestinya bersifat kontekstual. Meski Gen-Z umumnya mampu melakukan code-switching, yakni menyesuaikan bahasa dengan situasi, tidak sedikit juga yang ‘terpeleset’ dan tanpa sengaja menggunakan istilah-istilah ini dalam lingkungan akademik. Misal sebelum atau sesudah kelas, saat berkegiatan akademik di luar kampus seperti praktikum, kunjungan, bahkan saat harus melakukan praktik kerja di berbagai kantor maupun instansi. Meski umumnya dituturkan kepada rekan sesama, dan dalam percakapan informal, istilah-istilah tersebut sebaiknya dihindari dalam ruang akademik atau profesional. Kurangnya keterampilan dalam code-switching atau “membaca atmosfer”, dapat menimbulkan kesan terjadinya fenomena kemerosotan bahasa, dan kemampuan adaptasi linguistik yang rendah.

Jadi gimana guys? Masih mau pakai imbuhan Jir-Anjir?