Kalau kalian mahasiswa Ilmu Kelautan Undip, pasti kalian pernah mendengar tentang Save Ocean kan?
Yes! Benar! Save Ocean merupakan sebuah platform yang dirikan oleh Leon Sahertian, mahasiswa Program Studi S1 Ilmu Kelautan Undip, sejak tahun 2023 sebagai wadah penyampaian informasi dan edukasi mengenai isu-isu lingkungan, khususnya isu kelautan dan laut. Platform ini dibentuk dengan fokus utama pada anak-anak muda agar lebih aktif, peduli, dan sadar terhadap berbagai permasalahan lingkungan dan laut yang sedang terjadi saat ini. Save Ocean bergerak sebagai platform edukasi dan kampanye digital melalui pembuatan konten, kolaborasi dengan pihak-pihak yang memiliki kapabilitas di bidang kelautan dan lingkungan, serta penyelenggaraan kegiatan edukatif daring seperti webinar, talkshow, dan live talk.
Awal mula Save Ocean
Save Ocean yang saat ini aktif mengedukasi generasi muda, sebenarnya datang dari keinginan Leon untuk mendaftar beasiswa. Di mana, seperti yang kita tahu beasiswa pada umumnya menuntut mahasiswa membuat essay kontribusi. Dalam penyusunan essay tersebut, Leon berfikir untuk menjadikan save ocean ini sebagai kontribusi dan berencana menjadikannya sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).
“Ternyata essay saya lolos dan dipanggil untuk wawancara. Sebelum wawancara itu, Leon segera membuat bentuk nyata dari Save Ocean ini agar bukan semata-mata khayalan saja tetapi sudah ada bentuknya melalui Instagram. Waktu wawancara terjadi, ternyata Leon ditanya-tanya tentang Save Ocean ini mau mengarah kemana dan ternyata Save Ocean yang Leon buat ini secara umum belum terstruktur banget jadi selama wawancara itu dicecar oleh pewawancara, ujungnya-ujungnya gagal beasiswanya“, ungkapnya.
Dari kegagalan itu, Leon pun segera membenah diri dan memperbaiki Save Ocean. Akan tetapi, fokus sekarang bukan lagi beasiswa melainkan betul-betul ingin merealisasikan platform ini menjadi platform yang terstruktur setidaknya dari sudut pandang Leon dan tim.
Evolusi Save Ocean menjadi platform edukasi yang menginspirasi
Pikiran ini berubah, karena Leon melihat ternyata banyak masyarakat belum paham tentang laut.
“Jika ditanya laut pasti mereka cuman bilang spongebob, petrik, mr plankton dll jadi ilmu laut itu sangat kurang banget dan leon liat pun sebenarnya lingkungan kurang menyediakan media informasi yang baik. Memang jurnal tentang laut ada dan artikel tentang laut banyak tapi bagaimana mereka menyampaikan hal tersebut ke masyarakat tuh ngga efektif karena masyarakat yang kita tahu sulit memahami istilah-istilah ilmiah yang sulit“, lanjutnya.
Dari situ, Leon memutuskan untuk mengubah Save Ocean menjadi sebuah platform. Sebelumnya Leon pernah bekerja sebagai konten kreator di media edukasi online yang membentuk cara berpikirnya tentang bagaimana menyampaikan informasi yang baik, informatif, dan mudah dipahami. Dari situ, Leon memberanikan diri membangun platform ini secara sederhana, membuka rekrutmen kecil-kecilan yang ternyata mendapat respons besar hingga sekitar 150 orang pendaftar. Dari proses itu, Leon mulai menyusun sistem yang mudah, meskipun belum sempurna, tetapi cukup untuk membuat platform ini berjalan. Dalam perjalanannya memang masih ada kekurangan, namun Save Ocean mulai mampu menghasilkan konten edukatif, menyelenggarakan webinar, talk show, dan berbagai kegiatan lainnya, hingga akhirnya benar-benar terbentuk sebagai sebuah platform yang hidup dan berkembang.

Salah satu kegiatan Webinar Save Ocean yang mengundang peneliti Antartika dari KKP
Untuk saat ini, aktivitas Save Ocean masih berfokus pada pengembangan platform media sosial, khususnya melalui TikTok dan Instagram, serta didukung oleh LinkedIn sebagai media profesional. Adapun untuk website resmi, saat ini masih dalam tahap pengembangan, sehingga seluruh aktivitas Save Ocean masih terpusat pada platform media sosial.
Hingga saat ini Save Ocean telah melaksanakan tiga kali webinar dengan narasumber antara lain Dr. Anastasia Rita T.D. Kuswardani, peneliti oseanografi fisika dan Antartika dari KKP; Dr. Elle Wibisono, seorang peneliti perikanan, penasehat kebijakan laut, dan komunikator sains; Rahma Aulia, Duta lingkungan Jawa Barat; Dwi Guna Pradnyaniswari, Miss Tourism International 2025; Dr. Dwi Haryanti, dosen Ilmu Kelautan Undip; dan Habaib Al Mukarrahmah, S.H, CLA., aktivis lingkungan dan penasehat kebijakan laut. Selain webinar, Save Ocean juga sukses menyelenggarakan Live talk dengan pembicara antara lain Teria Salhuteru (pendiri Moluccas Coastal Care), Fitri Adzan (Aktivis Orangutan Life Youths), Neisya Septifrita Dewi (Aktivis kesetaraan gender, pendiri @Sensibleidn, dan YPAT UNICEF 2024), dan Trisna Kusuma (YPAT UNICEF EAP 2022 dan Young Climate Activist).
Saat ditanya, bagaimana Save Ocean bisa mengundang pembicara dari berbagai latar belakang profesi dan keilmuan, Leon menjawab,
“Biasanya pembicara event Save Ocean itu datang dari riset yang dilamuka oleh tim sendiri. Dimana di save ocean terdapat tim external yang tugasnya mencari narasumber relevan dengan tema event. Pencarian ini biasanya dilakukan melalui media Instagram, Linkedin dll. Selain itu sebenarnya Leon juga cukup punya banyak kenalan orang-orang aktivis dan ilmuwan karena pernah terlibat dalam aktivitas lingkungan baik regional hingga internasional dan pernah tergabung dalam organisasi UNICEF Asia jadi kenalan sudah cukup banyak”.
Harapan ke depan untuk Save Ocean
Leon dan tim memiliki harapan besar agar di masa yang akan datang Save Ocean dapat menjadi sebuah lembaga swadaya masyarakat dan media informasi lingkungan yang baik dan besar serta memiliki tim yang sangat solid agar perkembangannya maksimal. Selain itu juga Leon juga berharap bisa bekerja sama dengan pihak eksternal seperti NGO baik lokal maupun internasional atau pemerintah agar suara tentang laut dapat tersampaikan lebih luas dan membantu banyak orang.
Jangan lupa untuk pantau terus kegiatan-kegiatan menarik Save Ocean di instagram mereka ya!